Solusi Manajemen http://binasolusijitu.com Bina Solusi adalah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi manajemen melalui oleh data, riset manajemen, statistika industri, survey kepuasan karyawan, survey kepuasan konsumen dan pengukuran indeks perusahaan. Sun, 5 Sep 2010 03:07:00 +0700 CMS KOMA v1.00 id http://binasolusijitu.com http://binasolusijitu.com/images/logo.gif Solusi Manajemen Jasa Survei Kepuasan Karyawan http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=42984 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=42984 Thu, 5 Aug 2010 15:11:54 +0700 Bina Solusi Kasus Dengan Statitik http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=42984 Perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia bahkan di seluruh dunia telah memahami bahwa survei kepuasan karyawan merupakan instrumen yang sangat berharga untuk mengukur kepuasan karyawan.

 

Berdasarkan hasil penelitian di beberapa perusahaan diketahui bahwa biaya pergantian karyawan sangat besar setiap tahunnya, berkisar antara 25 - 200% dari kompensasi tahunan karyawan. Dengan memahami kondisi tersebut melalui instrumen survei karyawan, manajemen akan mampu menerapkan kebijakan dan prosedur yang tepat sehingga meningkatkan retensi karyawan untuk tetap bersedia bekerja di perusahaan.

 

Selain itu dari beberapa penelitian lainnya menunjukan adanya hubungan antara kepuasan karyawan dan kepuasan pelanggan. Dengan demikian survei kepuasan karyawan semakin penting untuk meningkatkan keandalan perusahaan dalam persaingan usaha. Berikut adalah beberapa tinjauan yang menunjukan pentingnya survei kepuasan karyawan.

 

Arti Penting

Masalah kepuasan karyawan sangat perlu dijaga sebagai upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja serta kesehatan perusahaan. Menurut artikel 2009 Agustus di The Times, ketika karyawan senang dengan pekerjaannya dan merasa puas dengan perusahaan mereka, mereka cenderung termotifasi untuk bekerja lebih baik dan setia kepada perusahaan. Dengan demikian, perlu dilakukan survei untuk mengukur persepsi kepuasan karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya. Survei memungkinkan manajemen perusahaan untuk mengetahui apa yang terjadi sehingga mereka dapat meminimalkan perilaku karyawan yang merugikan, seperti karyawan yang berprestasi tiba-tiba mengajukan resign. Tentunya hal ini sangat merugikan. Melalui survei kepuasan karyawan, pihak manajemen akan mampu menyikapi kondisi karyawan secara benar agar stabilitas perusahaan pun dapat terjaga.

 

Moral

Ditinjau secara moral, motivasi kerja karyawan yang rendah akan berdampak buruk terhadap perusahaan. Jika perusahaan ingin mempertahankan dan meningkatkan produktifitas karyawan, maka pihak manajemen harus memahami budaya organisasi dan penyebab perubahan sikap moral yang mengakibatkan rendahnya motivasi karyawan. Sikap moral yang rendah menyebabkan produktivitas rendah sehingga pendapatan perusahaan pun rendah. Dengan melakukan survei kepuasan karyawan, perusahaan dapat mengetahui apakah rendahnya motivasi merupakan dampak dari perubahan budaya organisasi yang tidak diharapkan karyawan. Tentunya perusahaan ingin menghindari dan meminimalkan rendahnya moral karyawan sebelum berdampak negatif bagi perusahaan. Dengan melakukan survei kepuasan karyawan adalah cara yang efektif untuk mengidentifikasi masalah moral dan menemukan cara-cara untuk memperbaiki dari kondisi tersebut.

 

Saran atau Masukan

Ketika perusahaan mengadakan survei kepuasan karyawan, ini merupakan sarana bagi pihak karyawan untuk memberi masukan kepada manajemen dengan menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan. Survei karyawan memungkinkan manajemen mendapatkan umpan balik mengenai hal-hal yang dibutuhkan karyawan seperti pelatihan, seminar, kebijakan dan kualitas manajemen. Survei kepuasan yang dibuat anonim, mampu menggugah karyawan cenderung untuk bersikap jujur. Hal ini membantu perusahaan melakukan perbaikan organisasi sesuai kebutuhan.

 

Merasa Dihargai

Survei karyawan adalah suatu bentuk komunikasi antara karyawan dan manajemen, sehingga kegiatan ini dapat memperkuat hubungan karyawan dan manajemen. Dengan meminta masukan dari karyawan dalam kegiatan survei, karyawan akan merasa sangat dihargai keberadaannya. Hal ini, pada gilirannya dapat meningkatkan semangat karyawan karena mereka dinilai penting oleh perusahaan.

 

Pertimbangan Manajemen

Perlu pemahaman bahwa hasil survei bukanlah kekuatan mutlak untuk membuat perubahan besar di perusahaan. Hasil survei tidak sama dengan suara dalam pemilihan pemimpin wilayah (pemilu/pilkada). Namun dalam hal ini pihak manajemen sebaiknya benar-benar pertimbangkan masukan dari karyawan dan mengupayakan cara-cara yang layak untuk menjaga semangat kerja karyawan.

 

Dalam hal ini Lembaga Bina Solusi pun menyediakan jasa untuk membantu pelaksanaan survey karyawan. Dan untuk informasi lebih lanjut mengenai jasa survei yang kami tawarkan dapat hubungi kami di:

Kantor Bina Solusi

Jl. Layur No 5 Rawamangun

Jakarta Timur

Telp. (021)47866162 - (021)92798467

http://www.binasolusijitu.com

Email: roy_mgr@yahoo.com atau bina_mrsolution@yahoo.com

 

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
Pelatihan Olah Data Dengan Software Statistik SPSS Rutin 2 Kali Seminggu http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=37224 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=37224 Fri, 4 Jun 2010 22:52:57 +0700 Bina Solusi Agenda Pelatihan http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=37224

Pelatihan Software Statistik / SPSS : Materi Plus Praktek Software Statistika Dengan SPSS Untuk Staff Perusahaan dan Mahasiswa

 

Tanggal (Bisa Pilih):

 

11 Agustus 2010

14 Agustus 2010

18 Agustus 2010

21 Agustus 2010

25 Agustus 2010

28 Agustus 2010

1 September 2010

4 September 2010

 

Jam Pelaksanaan:
10.00 – 15.00

 

Tempat:

Kantor Bina Solusi

Jl. Layur No 5 Rawamangun

Jakarta Timur

Telp. (021)47866162 - (021)92798467

 

Harga:
Karyawan: Rp 500.000,00/peserta (> 2 orang Rp 350.000,00/peserta)

Mahasiswa: Rp 400.000,00/peserta (> 2 orang Rp 300.000,00/peserta)

Catatan: Harga Tidak Termasuk Sewa Laptop

 

Materi:
SPSS adalah singkatan dari Statistical Products and Solution Services. SPSS adalah suatu Software statistik yang mampu memproses data statistik secara cepat dan tepat, menjadikan berbagai output yang dikehendaki para pengambil keputusan. Dengan kata lain SPSS berfungsi untuk menganalisis data dengan melakukan perhitungan statistik baik parametrik maupun non parametrik (Ghozali, 2001:14).

Di kalangan akademisi software SPSS sudah sangat popular. Dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan tugas akhir SPSS sangat diandalkan. Software ini terbukti banyak membantu penelitian sehingga hasil yang dicapai lebih optimal. Namun kadang kala mahasiswa banyak menemui hambatan karena tidak dimasukan ke dalam materi perkuliahan mengenai aplikasi software statistik terutama SPSS.

Di kalangan perusahaan atau organisasi lainnya, kesuksesan diukur berdasarkan pencapaian terhadap tujuan organisasi. Kesuksesan suatu organisasi dalam mencapai tujuan perlu ditunjang dengan pengelolaan informasi secara tepat dan akurat. Hal ini sangat penting karena akan memberi arahan yang jelas dalam pengambilan keputusan bagi manajemen. Oleh karena itu kami mencoba berbagi untuk membantu memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut dengan menyelenggarakan pelatihan dan praktek aplikasi SPSS. Materi yang akan dibahas pada pelatihan ini antara lain:

1.Pengenalan Statistika & SPSS
2.Install SPSS 17
3.Membuat File Baru
4.Membuat Label Data
5.Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha
6.Uji Validitas dengan korelasi pearson
7.Uji validitas dengan KMO & Bartlet
8.Uji Normalitas (distribusi normal)
9.Uji perbandingan satu sampel
10.Uji beda dua sampel beda jumlah
11.Uji beda dua sampel berpasangan
12.Uji beda lebih dari 2 sampel (Anova)
13.Uji Z
14.Chi Square (independensi)
15.Chi Square (Keselarasan)
16.Korelasi
17.Regresi

 

Wajib diikuti oleh:
Para staff Perusahaan, Manager dan Mahasiswa

Note: Free konsultasi 2 minggu pasca pelatihan

 

Pendaftaran Hubungi:
Staff Kami di (021)47866162 - (021)92798467

 

Pembayaran:
Transfer ke BCA KCP Graha Intifauzi Nomor Rek 035-156998-0, lalu konfirmasikan dgn menghubungi no (021)47866162 - (021)92798467 atau email ke
roy_mgr@yahoo.com

 

Informasi Lebih Lanjut Hubungi :

Kantor Bina Solusi

Jl. Layur No 5 Rawamangun

Jakarta Timur

Telp. (021)47866162 - (021)92798467

http://www.binasolusijitu.com

Email: roy_mgr@yahoo.com atau bina_mrsolution@yahoo.com

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
MENGUKUR PERSEPSI / PENILAIAN RESPONDEN, SYARATNYA VALID & RELIABEL http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=28669 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=28669 Mon, 22 Mar 2010 13:07:14 +0700 Bina Solusi Kasus Dengan Statitik http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=28669

Pembahasan terlebih dahulu dilakukan dengan membicarakan konsep pengukuran. Pangukuran erat kaitannya dengan besaran-besaran yang sering digunakan dalam ilmu-ilmu eksakta. Hasil penggukuran umumnya dinyatakan dalam satuan dan merupakan output dari alat ukur. Sebagai contoh adalah untuk mengukur besaran tegangan listrik satuan yang digunakan adalah Volt dan alat ukur yang bisa digunakan Voltmeter baik analog ataupun digital. Contoh lainnya untuk mengetahui kecepatan laju mobil atau motor satuan yang sering dipakai di Indonesia adalah Km/Jam, alat ukur yang digunakan umumnya telah terpasang pada kendaraan adalah Speedometer.

Selanjutnya yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah “apakah setiap alat ukur dapat dipercaya hasilnya?” dan “apakah mungkin akan terjadi perbedaan hasil pengukuran antara alat ukur yang kita gunakan dengan alat ukur yang digunakaan orang lain?”

Disinilah letak seni dalam melakukan pengukuran. Suatu alat ukur dapat dipercaya jika sudah diuji akurasinya (keakuratan hasil pengukurannya), melalui kegiatan kalibrasi. Dalam proses kalibrasi, alat akur diuji dengan dicoba melakukan serangkaian pengukuran pada berbagai tingkatan besaran mulai dari yang terrendah hingga yang tertinggi. Pada proses kalibrasi, alat ukur yang pengukurannya menunjukan hasil yang akurat untuk suatu tingkat nilai besaran akan dinyatakan VALID. Dan jika alat ukur tersebut dari sekian kali pengukuran selalu menunjukan hasil yang akurat dapat dinilai ANDAL (reliable).

Lalu... bagaimana jika yang perlu diukur bukan dalam bentuk besaran yang umum, namun berkaitan dengan persepsi manusia, seperti kepuasan, profesionalitas, kemampuan manajerial, dan lain-lain. Jawabanya tetap dengan mengunakan bantuan alat ukur yang dapat menghasilkan output atau hasil pengukuran. Perbedaanya terletak pada konsep alat ukur yang dipakai, yaitu menggunakan angket/kuesioner sebagai sarana pengukuran dan nilai skor sebagai output pengukuran yang hanya berlaku untuk angket/kuesioner tersebut. Jadi, dalam hal ini proses pengukuran dilakukan dengan pendekatan persepsi atau penilaian yang kemudian dinyatakan dalam angka oleh orang yang memberikan penilaian tersebut. Transformasi dari penilaian menjadi angka sering kali disebut proses kuantifikasi. Di lapangan sering kali dilakukan survey untuk menyebar kuesioner kepada sejumlah, bisa juga dengan dengan wawancara langsung. Dan orang yang mengisi kuesioner dinamakan responden.

Dalam melakukan pengukuran terhadap hal-hal yang berkaitan persepsi seseorang, ada dua hal yang harus ditentukan dengan benar, yaitu responden (sampel) dan kuesioner (sebagai sarana pengukuran). Syarat utama untuk responden adalah seharus yang memahami permasalahan yang akan diukur dan terpilih sebagai sampel dari suatu populasi berdasarkan teknik sampling yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sedangkan syarat utama untuk kuesioner adalah harus menggunakan dimensi atau indikator yang benar secara teori atau berdasarkan pendapat para ahli untuk permasalahan tersebut. Disamping itu kuesioner pun harus teruji Valid dan Reliabel.

  Jadi seperti uraian tersebut perlu ditegaskan kembali bahwa yang perlu diperhatikan adalah responden seharusnya mereka yang memahami permasalahan dan kuesioner harus menggunakan dimensi/indikator sesuai teori atau pendapat ahli. Sekarang, kita anggap bahwa responden sudah ditentukan dengan teknik sampling secara benar, lalu untuk kuesioner pun tiap-tiap pertanyan sudah merujuk pada teori yang tepat. Selanjutnya untuk mengetahui apakah tiap-tiap tertanyaan pada kuesioner tersebut dinilai layak untuk digunakan dan memberikan penilaian yang benar perlu   dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

Uji validitas dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS 17.0, penentuan valid suatu butir indikator pertanyaan adalah jika nilai Corrected Item-Total Correlation di atas nilai r tabel. Berikut ini adalah contoh pengujian validitas untuk variabel preferansi konsumen internet banking.

Butir         Corrected Item-Total Correlation    r tabel       Hasil

Pref1                          0.7463                                    0.2407    Valid

Pref2                          0.9141                                    0.2407    Valid

Pref3                         0.7630                                    0.2407    Valid

Pref4                         0.8083                                    0.2407    Valid

Pref5                         0.7164                                    0.2407    Valid

Pref6                          0.7578                                    0.2407    Valid

Pref7                         0.8612                                    0.2407    Valid

 

Setelah tiap-tiap butir indikator terbukti valid, maka tersebut layak dipercaya sebagai pertanyaan pada kuesioner.

Dan untuk mengetahui apakah suatui kuesioner dapat diandalkan sebagai sarana untuk mengukur penilaian atau persepsi perlu dilakukan pengujian reliabilitas. Uji reliabilitas dapat dilakukan juga dengan menggunakan software SPSS 17.0, penentuan reliabel suatu kuesioner adalah jika nilai cronbach’s   di atas nilai r tabel. Berikut ini adalah contoh hasil pengujian reliabilitas untuk kuesioner preferansi konsumen internet banking

Dari hasil perhitungan SPSS ver. 17 diperoleh cronbach’s   preferensi layanan internet banking sebesar 0.936 dengan r tabel 0.2407. Sehingga nilai Cronbach a lebih besar dari nilai tabelnya maka kuesioner untuk preferensi dapat dinyatakan reliabel.

Dan jika suatu kuesioner sudah terbukti valid dan reliabel maka  kuesioner tersebut sudah layak sebagai alat ukur penilaian / persepsi.

 

 

Untuk Bantuan dan Info lebih lanjut hubungi:

Kantor Bina Solusi

Jl. Pondok Kopi No. 63

Jakarta Timur

call   : 021-92798467

SMS : 085881153889

email: roy_mgr@yahoo.com

http://www.binasolusijitu.com

 

 

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
CONTOH RINGKASAN SURVEY KEPUASAN KARYAWAN http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=26565 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=26565 Thu, 4 Mar 2010 08:10:54 +0700 Bina Solusi Kasus Dengan Statitik http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=26565

 

LAPORAN SURVEY KARYAWAN PT. HAMPARAN LAUT BIRU TAHUN 2010

 

Tujuan

Survey merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk menghimpun informasi dan masukan dari sebagian atau seluruh populasi yang memiliki kesamaan kriteria atau perlakuan. Pada survey karyawan pihak manajemen bermaksud menghimpun data yang kemudian diolah sehingga diperoleh informasi dan masukan dari pihak karyawan dengan dimensi-dimensi atau indikator-indikator tertentu sebagai dasar evaluasi atas kebijakan yang telah ditetapkan manajemen. Dalam survey ini indikator-indikator survey dirancang sesuai dengan harapan manajemen. Adapun harapan yang diinginkan pihak manajemen melalui survey ini adalah untuk mengetahui, menilai dan mengevaluasi kepuasan para karyawan perihal perusahaan selama bekerja di PT. Hamparan Laut Biru. Melalui survey ini diharapkan dapat diperoleh masukan sebagai bahan pertimbangan manajemen guna merumuskan kebijakan periode mendatang sehingga tercapai keseimbangan harapan antara pihak karyawan dengan manajemen.

 

Metode

Metode analisis yang digunakan untuk menilai hasil survey ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Ditinjau berdasarkan sumbernya data yang akan dianalisis termasuk dalam katagori data primer. Data primer adalah data yang dihimpun langsung dari objek penelitian menggunakan kuesioner yang diisi oleh para karyawan. Hasil survey setelah dianalisis akan dinyatakan dalam angka “Indeks Kepuasan” dalam skala prosen yang menceminkan kepuasan karyawan secara keseluruhan.

 

Nilai Kritis Untuk Tingkat Kepuasan Karyawan

Dalam melakukan analsis data survey perlu ditentukan terlebih dahulu batasan nilai standard atau nilai kritis (cut off value). Nilai kritis diperlukan untuk memisahkan antara kelompok responden yang dinyatakan puas dan tidak puas. Untuk data normal, nilai kritis ideal adalah median (70.313). Lebih jelas mengenai pembagian daerah kepuasan dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Nilai

Score

Min

31.962

Median

70.313

Max

87.232

 

Dagi gambar di atas, dapat diketahui nilai kritis sebagai pembeda antara responden yang puas dan tidak puas adalah 70.313%. Kaidah yang berlaku dalam hal ini adalah:

·         jika nilai jawaban responden menghasilkan nilai di bawah nilai 70.313% maka responden atau karyawan tersebut memberikan penilaian tidak puas terkait pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

·         jika nilai jawaban responden menghasilkan nilai di atas nilai 70.313% maka responden atau karyawan tersebut memberikan penilaian puas terkait pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

 

 

Instrumen

Untuk survei ini, penyusunan instrumen ini didasarkan pada praktik terbaik internasional dalam hal survei kepuasan karyawan. Instrumen yang dimaksud adalah instrumen kuesioner untuk para paryawan, sebagai instrumen utama untuk menggali informasi secara mendasar terkait dengan kepuasan karyawan, dengan penekanan pada pemahaman faktor-faktor penentu kepuasan dan sekaligus untuk memperoleh masukan sederhana dari karyawan.

 

Sementara butir-butir pertanyaan kuesioner dibuat dalam bentuk pilihan ganda dimana setiap butir pertanyaan terdiri dari empat alternatif jawaban. Penilaian dilakukan dengan skala penilaian 1-4, arti dari masing-masing skala dapat dijelaskan sebagai berikut :

-          Skala 4 diartikan Sangat Setuju, dalam hal ini karyawan menilai dengan skala penilaian sangat tinggi/baik sekali. Kebijakan manajemen terhadap karyawan dinilai sangat sesuai dengan harapan karyawan.

-          Skala 3 diartikan Setuju, dalam hal ini karyawan menilai dengan skala penilaian baik. Kebijakan manajemen terhadap karyawan dinilai sudah sesuai dengan harapan haryawan.

-          Skala 2 diartikan Kurang Setuju, dalam hal ini karyawan menilai dengan skala penilaian kurang baik. Ada beberapa kebijakan manajemen terhadap karyawan yang dinilai perlu dibenahi.

-          Skala 1 diartikan Tidak Setuju, dalam hal ini karyawan menilai dengan skala penilaian sangat tidak baik. Ada beberapa kebijakan manajemen terhadap karyawan yang dinilai sangat perlu dibenahi.

 

Dalam menjawab tiap-tiap pertanyaan karyawan melakukan penilaian dengan mengaitkan kesesuaian antara harapan mengenai fasilitas/kebijakan /sistem/benefit dengan kenyataan yang diterimanya.

 

Kesimpulan Hasil

1.    Dari hasil analsis diperoleh nilai indeks kepuasan di PT. HAMPARAN LAUT BIRU secara keseluruhan adalah 69.357% dan ini masih di bawah nilai kritis 70.313%. Hal ini berarti secara keseluruhan para karyawan yang bekerja di PT. HAMPARAN LAUT BIRU masih merasa belum/tidak puas.

2.    Berdasarkan hasil analsis diperoleh dimensi yang mencapai indeks kepuasan tertinggi adalah dimensi ke-11 mengenai Partisipasi Karyawan dengan nilai 83.205% (termasuk katagori puas). Dengan kata lain responden sudah menilai puas mengenai Partisipasi Karyawan. Sedangkan poin pertanyaan menghasilkan indeks kepuasan terendah adalah dimensi ke-8  mengenai Kebijakan Upah dengan nilai 58.409%. Maka dapat dikatakan berdasarkan jawaban responden kebijakan Upah belum memuaskan.

  1. Berdasarkan hasil analsis dimensi yang termasuk dalam kriteria puas ada 6 dimensi yaitu: proses komunikasi, penilaian terhadap Perusahaan, manfaat survey, keamanan dan keselamatan kerja, perubahan manajemen dan partisipasi karyawan.
  2. Dari hasil analsisi diketahui dimensi yang termasuk dalam kriteria tidak puas ada 12 dimensi yaitu: Kebijakan Upah, Penghargaan Bagi Karyawan, Budaya Kerja/Organisasi, Jajaran Manajemen, Pengembangan Karier, Sarana-Sarana Pendukung, Program Pelatihan & Pengembangan, Kegiatan Produksi, Atasan Langsung, Pekerjaan Sekarang, Lingkungan Kerja dan Pengawasan Internal.
  3. Dari hasil pengujian independsensi diperoleh nilai chi square sebesar 45.528 dan nilai sig. Sebesar 0.000. Selanjutnya dengan membandingkan nilai sig. dengan nilai tingkat keyakinan 95% sehingga alpha = 0.05 (5%), maka terbukti  karena nilai sig. (0.000) < nilai alpha (0.05) sehingga dapat dikatakan bahwa “terdapat hubungan antara indikator dengan kepuasan karyawan”. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dalam hal ini terdapat pola kecenderungan untuk indikator-indikator dari suatu dimensi tertentu selalu dinilai puas atau sebaliknya oleh responden.
  4. Dari hasil analsisi diketahui karyawan yang bekerja di departemen HR memberikan penilaian kepuasan tertinggi dengan nilai 78.146%. Sedangkan kelompok karayawan yang memberikan nilai kepuasan terendah adalah karyawan yang bekerja di department IT dengan nilai 62.920%. Dan juga diketahui teradapat 7 departemen dalam kriteria tidak puas dengan score di bawah 70.313%, yaitu IT, Electrical/Engineering, Produksi, Quality, Finance, VAP dan Sales. Dalam hal ini dimensi yang dinilai tidak puas antara lain Kebijakan Upah, Budaya Kerja/Organisasi, Jajaran Manajemen, Penghargaan Bagi Karyawan, Pengembangan Karier, Kegiatan Produksi, Pekerjaan Sekarang, Pengawasan Internal, Program serta Pelatihan & Pengembangan.
  5. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui karyawan yang bekerja di lokasi kantor BMS memberikan penilaian kepuasan tertinggi dengan nilai 75.562%. Sedangkan kelompok karayawan yang memberikan nilai kepuasan terendah adalah karyawan yang berlokasi kantor di Cilegon dengan nilai 65.792%. Diketahui pula ada 2 lokasi kantor dalam kriteria tidak puas dengan scor di bawah 70.313%, yaitu Cilegon dan Gresik. Dalam hal ini dimensi yang dinilai tidak puas antara lain Jajaran Manajemen, Pekerjaan Sekarang, Kebijakan Upah, Penghargaan Bagi Karyawan, Pengembangan Karier dan Budaya Kerja/Organisasi.
  6. Mengenai penilaian manfaat survey diketahui responden yang menjawab ada 220 responden atau 95.238% dari keseluruhan responden. Adapun komposisi jawaban adalah 12 orang (5.195%) menjawab tidak setuju, 32 orang (13.853%) menjawab kurang setuju, 113 orang (48.918%) menjawab setuju dan 63 orang (27.273%) menjawab sangat setuju. Pencapaian nilai dari responden diperoleh score 75.795%, nilai ini di atas nilai kritis. (70.313%). Oleh itu dapat disimpulkan bahwa responden menyetujui adanya manfaat dari program survey ini di PT. HAMPARAN LAUT BIRU.
  7. Untuk sarana yang sudah tersedia sebagian besar responden atau karyawan PT. HAMPARAN LAUT BIRU memilih “Pembenahan Kesehatan” yang di dalamnya sudah termasuk asuransi kesehatan sebagai fasilitas yang telah tersedia namun memerlukan perhatian, perbaikan dan/atau peningkatan. Mengenai Pembenahan Kesehatan menghasilkan nilai 295, lalu secara berturut-turut berikutnya adalah “Peningkatan Gaji” dengan nilai 168 dan peningkatan “Bonus” dengan nilai 68.
  8. Untuk sarana yang sudah tersedia sebagian besar responden atau karyawan PT. HAMPARAN LAUT BIRU memilih“Menambah Jenis Tunjangan.  Mengenai penambahan jenis tunjangan menghasilkan nilai total 136, lalu secara berturut-turut berikutnya adalah “Dana Pensiun” dengan nilai 69 dan peningkatan “Pinjaman Karyawan” dengan nilai 47.

 

 

Saran

1.    Seperti telah diketahui indeks kepuasan PT. HAMPARAN LAUT BIRU secara keseluruhan adalah 69.357% artinya menurut tanggapan para karyawan kondisi pada saat ini mengenai kepuasan kerja masih belum memuaskan harapan karyawan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya dialog agar tercapai saling pengertian dan hubungan yang harmonis antara karyawan dengan pihak manajemen. Terutama mengenai Kebijakan Upah, Budaya Kerja/Organisasi, Jajaran Manajemen, Penghargaan Bagi Karyawan, Pengembangan Karier, Kegiatan Produksi, Pekerjaan Sekarang, Pengawasan Internal, Program serta Pelatihan & Pengembangan.

2.    Baik secara keseluruhan maupun di masing-masing departemen atau lokasi kantor, perlu khusus dan intensif untuk mempertimbangkan aspirasi  para karyawan agar tercapai kondisi saling memahmi antara pihak karyawan dengan manajemen.

 

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
APAKAH DOKTER MEMATUHI ANJURAN UNTUK MERESEPKAN ANTI BIOTIK GENERIK??? http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=25785 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=25785 Tue, 23 Feb 2010 07:16:05 +0700 Bina Solusi Kasus Dengan Statitik http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=25785 Oleh:

Moh. Rojana Hamdan, ST., MM.

 

Semua Rumah Sakit tentunya ditunjang olah para dokter yang berhak meresepkan obat kepada pasien-pasiennya. Selanjutnya pasien atau keluarganya akan membawa resep tadi ke apotik untuk memperoleh obat yang telah diresepkan. Pada sekelompok masyarakat tertentu, umumnya karyawan perusahaan, biaya kesehatan termasuk pemeriksaan dokter dan obat tidak ditangung sendiri tetapi di-cover oleh perusahaan asuransi atau perusahaan tempat si pasien bekerja.

Di Rumah Sakit Pertamina Pulomas Jakrta Timur, terjadi fenomena setiap tahunnya biaya obat seringkali membengkak. Tercatat yang tertinggi adalah penggunaan obat-obatan Anti Biotik, sehingga pihak asuransi atau perusahaan penangung memutuskan untuk melakukan upaya guna menekan biaya obat-obatan kelompok Anti Biotik. Selanjutya, pihak asuransi dan perusahaan mencoba melakukan pendekatan dengan para dokter dan menghimbau untuk meresepkan Anti Biotik Generik. Dan himbauan tersebut disampaikan kepada para dokter tetap maupun dokter mitra.

Setelah berjalan sekitar delapan bulan sejak dihimbau kepada para dokter untuk meresepkan Anti Biotik generik, penulis diundang untuk menganalisis efektifitas hasil yang telah dicapai. Berikut adalah perbandingan growth penggunaan anti biotik generik antara sebelum dan setelah dilakukan anjuran kepada para dokter dengan row data mengacu pada jumlah hari yang diamati.

 

Dilihat dari pergerakan data akumulasi penggunaan antibiotik generik baik sebelum maupun setelah anjuran terlihat keduanya bergerak secara eksponensial. Dari data yang diperoleh dari perusahaan asuransi juga diketahui bahwa setelah anjuran pertumbuhan penggunaan antibiotik generik lebih besar dibandingkan sebelum anjuran.

 

Namun muncul pertanyaan apakah data tersebut membuktikan perubahan karakter atau perilaku para dokter dalam meresepkan antibiotik generik??? Hal ini perlu dibuktikan secara statistik dengan membandingkan perilaku diantara kedua kelompok dokter yang ada di RS Pertamina Pulomas dan juga dengan membandingkan growth antara kedua periode tersebut.

 

Analisis Perbandingan Perilaku Antara Kelompok Dokter Tetap Dengan Dokter Mitra Dalam Meresepkan Antibiotik Generik

Berikut adalah hasil perbandingan perilaku diantara dua kelompok dokter dalam meresepkan antibiotik generik sebelum ada anjuran untuk meresepkan anti biotik generik.

 

Penilaian Statistik

Dokter Tetap

Dokter Mitra

Interpretasi

N

110.000

156.000

 

Mean

0.100

0.064

Sebelum anjuran Dokter Tetap sudah Lebih Merekomendasikan Anti Biotik generik.

t tabel

1.645

Karena t hitung > t tabel, artinya terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan Anti Biotik generik.

t hitung

3.715

Sig.

0.000

 

Dari hasil perhitungan dengan t-test diketahui diantara dua kelompok dokter di RS Pertamina sebelum ada anjuran terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan Anti Biotik generik. Dalam hal perilaku meresepkan anti biotik, ternyata sebelum ada anjuran kelompok dokter tetap sudah lebih mengutamakan untuk meresepkan anti biotik generik ketimbang kelompok dokter mitra.

Selanjutnya, berikut adalah hasil perbandingan perilaku diantara dua kelompok dokter dalam meresepkan antibiotik generik setelah ada anjuran untuk meresepkan anti biotik generik.

 

Penilaian Statistik

Dokter Tetap

Dokter Mitra

Interpretasi

N

101.000

145.000

 

Mean

0.096

0.067

Setelah anjuran pun Dokter Tetap masih Lebih Merekomendasikan AB Generik

t tabel

1.645

Karena t hitung > t tabel, artinya terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan antibiotik generik.

t hitung

2.786

Sig.

0.006

 

Dari hasil perhitungan dengan t-test diketahui diantara dua kelompok dokter di RS Pertamina setelah ada anjuran tetap terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan Anti Biotik generik. Dalam hal ini kelompok dokter tetap masih lebih mengutamakan untuk meresepkan anti biotik generik ketimbang kelompok dokter mitra.

Dan berikut adalah hasil perbandingan perilaku diantara dua kelompok dokter dalam meresepkan antibiotik generik secara keseluruhan.

 

Penilaian Statistik

Dokter Tetap

Dokter Mitra

Interpretasi

N

211.000

301.000

 

Mean

0.098

0.065

Secara keseluruhan Dokter Tetap Lebih Merekomendasikan AB Generik

t tabel

1.645

Karena t hitung > t tabel, artinya terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan antibiotik generik.

t hitung

4.610

Sig.

0.000

 

Dari hasil perhitungan dengan t-test diketahui secara keseluruhan tetap terdapat perbedaan growth yang signifikan antara kelompok dokter tetap dengan dokter mitra dalam meresepkan Anti Biotik generik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dokter tetap lebih mengutamakan untuk meresepkan anti biotik generik ketimbang kelompok dokter mitra.

 

Dari hasil analisis perbandingan antara kelompok dokter tetap dan dokter mitra dapat disimpulkan bahwa sebelum dan setelah anjuran tidak terjadi perubahan perilaku dari kedua kelompok dokter dalam meresepkan antibiotik generik.

Analisis Perbandingan Penggunaan Antibiotik Generik Antara Sebelum Dan Setelah Anjuran

Setelah dianalisis dengan uji perbandingan (uji-t) diperoleh hasil perbandingan penggunaan antibiotik generik sebelum dan setelah anjuran di RS Pertamina Pulomas. Berikut adalah output dari pengujian yang dilakukan.

 

Penilaian Statistik

Sebelum Anjuran

Setelah Anjuran

Interpretasi

N

266

246

 

Mean

0.0788

0.0786

Secara keseluruhan antara sebelum dan setelah anjuran rata-rata pertumbuhan (growth) penggunaan antibiotik tidak menunjukan perbedaan yang berarti.

t tabel

1.645

Karena t hitung < t tabel, artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk growth anti biotik generik  antara sebelum dan setelah anjuran.

t hitung

0.039

Sig.

0.969

 

Dari hasil perhitungan dengan t-test diketahui secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan growth Anti Biotik generik yang signifikan antara sebelum dan setelah anjuran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dokter tetap lebih mengutamakan untuk meresepkan anti biotik generik ketimbang kelompok dokter mitra.

 

Hasil Analisis

1.       Terdapat perbedaan perilaku antara kelompok dokter tetap dengan kelompok dokter mitra dalam hal meresepkan antibiotik. Hal ini terjadi baik sebelum dan setelah anjuran kepada semua dokter untuk lebih mempriotitaskan antibiotik generik.

2.       Perilaku masing-masing kelompok dokter baik sebelum dan setelah anjuran tidak mengalami perubahan. Dimana kelompok dokter tetap cenderung lebih mempriotitaskan antibiotik generik.

3.      Sebagai dampak akibat perilaku kedua kelompok dokter tidak mengalami perubahan, maka penggunaan antibiotik generik baik sebelum maupun setelah anjuran tidak menunjukan perbedaan yang signifikan.

4.      Dengan demikian upaya untuk memprioritaskan penggunaan antibiotik generik melalui anjuran dapat dikatakan tidak efektif.

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
SPSS / Eviews ??? Decision Support ??? http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=18015 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=18015 Fri, 18 Dec 2009 00:03:15 +0700 Bina Solusi Perihal Bina Solusi http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=18015 Oleh:

 

Mohamad Rojana Hamdan, ST., MM.

(HP:085881153889)

 

Apakah SPSS dan Eviews itu? Benarkah SPSS dan Eviews mampu memecahkan masalah-masalah manajemen? Bagaimanakah aplikasi SPSS / Eviews dalam penelitian agar diperoleh hasil yang lebih optimal? Apa benefit yang bisa diambil? Apa kaitannya dengan statistika? Bukankah SPSS dan Eviews itu software penunjang metode statistik?

 

 Pertanyaan-pertanyan tersebut merupakan cerminan dari individu-individu di suatu perusahaan atau siapa saja yang akan melakukan penelitian dan berurusan dengan data-data penting namun belum memanfaatkan statistika atau metode statistik secara tepat dan optimal. Bahkan mungkin belum mengetahui sepenuhnya perihal SPSS atau Eviews sebagai sarana untuk menentukan keputusan yang lebih berkualitas.

Oleh karena itu untuk lebih memahami dan mampu memanfaatkan SPSS/Eviews secara optimal, perlu sekali untuk mulai belajar dan mengenal aplikasi SPSS / Eviews baik untuk perusahaan maupun bagi kalangan perguruan tinggi (skripsi/tesis/disertasi). Perlu diketahui bahwa software tersebut menjadi penunjang dalam menentukan pengambilan keputusan dan benar-benar mengagumkan jika dioperasikan olah tangan yang tepat. Dalam hal ini agar kedua software tersebut lebih bermanfaat ada beberapa persyaratan yang harus dipenahi antara lain:

1.  Mampu menentukan, mengumpulkan,  menata, menyajikan, menganalisis serta menginterpretasikan data menjadi informasi untuk membantu pengambilan keputusan yang efektif.

2.  Memahami metode analisis serta aplikasinya pada bidang industri.

3.  Memahami konsep analisis kualitatif dan kuantitatif untuk data-data industri.

4.  Mampu menguji kualitas data agar diketahui baik atau tidak suatu data untuk diolah.

5.  Mampu menentukan kebohongan data.

6.  Mampu menentukan kaitan antar faktor di perusahaan secara objektif.

 7. Mampu menguji signifikansi perbedaan hasil akibat perlakukan atau kebijakan manajemen yang berbeda.

8.     Mampu menginterpretasi hasil pengujian.

9.    Mampu menentukan nilai ideal atau relevance value baik untuk perspektif personel, keuangan, pemasaran, produksi dan lain-lainnya yang ada di perusahaan.

10.   Mampu melakukan poin 4 s/d 9 dengan SPSS atau Eviews.

 

Dan apabila syarat-syarat tersebut terpebuhi, lanjutkan dengan lima lanhkah berikutnya yaitu:

1.     Langkah I Identifikasi: Identifikasi dan menentukan prioritas masalah yang dihadapi manjemen.

2.     Langkah II Persiapan: Menentukan, mengumpulkan, menata dan menyajikan data.

3.     Langkah III Menguji Data: Menguji kualitas dan kelayakan data dengan SPSS atau Eviews.

4.     Langkah IV Analisis Data: Aplikasi SPSS atau Eviews dalam menggali informasi sebagai decision Support bagi manajemen.

5.     Langkah V Decision: Menentukan rekomendasi decision bagi manajemen dalam membenahi permasalahan yang dihadapi.

 

 

 Info lebih lanjut dapat menghubungi:

 

Mohamad Rojana Hamdan

di Lembaga Bina Solusi atau Lecture

HP: 085881153889

Fix: 4807678

 

 

 

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
1 Alternatif Transformasi Data http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17851 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17851 Wed, 16 Dec 2009 13:49:08 +0700 Bina Solusi Perihal Bina Solusi http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17851 Oleh,

Moh. Rojana Hamdan, ST., MM.

 

Hal ini penting untuk para pengembil keputusan dan data analist. Dalam suatu penelitian dengan mengunakan cara statistik, seringkali data-data yang kita kumpulkan sebelum melakukan pengujian hipotesis harus memenuhi beberapa asumsi seperti uji normalitas data dan asumsi klasik yang terdiri atas uji multikolineraitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Terkadang ditemui data yang akan kita analisis mengalami masalah yang berkaitan dengan uji-uji tersebut, sehingga harus dilakukan transformasi data. Beberapa permasalahan dapat diselesaikan dengan transformasi standar seperti ln, log, arc,  kuadratik, dll. Namun juga terkadang transformasi yang ada memiliki kekurangan, misal dengan cara log dan ln tidak memungkinkan untuk data-data negatif sehingga harus dilakukan perombakan mendasar dengan menggeser kontanta agar di atas sumbu nol. Pada akhirnya akan merepotkan ketika melakukan intrepretasi hasil.

Ada cara alternatif yang relatif mudah dan tidak merubah karateristik data, yaitu dengan konsep reduksi osilasi penympangan residual. Konsep ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: misalkan kita akan melakukan analisis terhadap 4 perusahaan otomotif (dikodekan A, B, C dan D) di Bursa Efek Indonesia dengan data variabel seperti KAP (Kantor Akuntan Publik) yang terbagi atas big 4 (dikodekan 1) dan non big 4 (dikodekan 0), lalu data indeks pengungkapan kecurangan (IP) dan initial return saham perusahaan (IR)  di lantai bursa. Pergerakan data diamati selama 5 tahun untuk masing-masing perusahaan, seperti pada table di bawah ini.

Object

Row

Thn

KAP

Index Pengungkapan

Initial Return

A

1

2004

0

0.25

0.199

2

2005

0

0.25

0.188

3

2006

0

0.4

-0.191

4

2007

0

0.3

0.033

5

2008

0

0.25

0.186

B

6

2004

1

0.4

-0.071

7

2005

1

0.25

0.806

8

2006

1

0.4

-0.481

9

2007

1

0.3

0.109

10

2008

1

0.25

0.687

C

11

2004

0

0.4

-0.404

12

2005

0

0.3

0.088

13

2006

0

0.4

-0.101

14

2007

0

0.3

0.053

15

2008

0

0.3

0.047

D

16

2004

1

0.4

-0.065

17

2005

1

0.4

-0.115

18

2006

1

0.4

-0.010

19

2007

1

0.4

0.010

20

2008

1

0.3

0.021

 

Lalu dilakukan uji normalitas data yang hasilnya seperti tabel di bawah ini.

                                                                                Tests of Normality

 

 

 

Kolmogorov-Smirnov(a)

Shapiro-Wilk

Statistic

df

Sig.

Statistic

df

Sig.

KAP

.335

20

.000

.641

20

.000

Index Pengungkapan

.299

20

.000

.762

20

.000

IR

.207

20

.024

.886

20

.023

a  Lilliefors Significance Correction

 

Dari keempat data tersebut ternyata semuanya dinyatakan tidak berdistribusi normal karena nilai sig.< 0.05 (untuk semua data), sehingga harus dilakukan transformasi data. Transformasi kurang tepat jika dilakukan dengan log atau ln karena ada data yaitu initial return ada yang mempunyai nilai negatif.

Oleh karena itu diperlukan konsep transformasi yang tidak biasa (khusus). Berikut adalah konsep transformasi data dengan mereduksi osilasi residual yang dijelaskan dalam bentuk grafik terlebih dahulu.

Dari tiap-tiap gambar terdapat fluktuasi (osilasi) data yang ekstrim terhadap nilai normalnya, fluktuasi tersebut mengakibatkan data tidak berdistribusi normal. Agar dpat diperoleh data yang berdistribusi normal dilakukan transformasi dengan membuat penyimpangan antara nilai aktual dengan nilai normal (unstandardized) lebih sempit.  Pada data di atas dilakukan reduksi penyimpangan sebesar 80% untuk KAP dan 50% untuk IR serta IP. Pada akhirnya diperoleh nilai transformasi yang berdistribusi normal namun masih memliki karakter yang sama dengan data aktualnyanya. Berikut adalah nilai hasil transformasi yang didapat.

 

Object

Row

Thn

KAP(transformasi)

IP(Transformasi)

IR(Transformasi)

A

1

2004

0.114

0.270

0.167

2

2005

0.144

0.272

0.157

3

2006

0.174

0.349

-0.037

4

2007

0.205

0.301

0.070

5

2008

0.235

0.279

0.142

B

6

2004

0.465

0.356

0.009

7

2005

0.495

0.283

0.443

8

2006

0.525

0.361

-0.205

9

2007

0.555

0.313

0.086

10

2008

0.585

0.290

0.371

C

11

2004

0.415

0.367

-0.179

12

2005

0.445

0.320

0.062

13

2006

0.475

0.372

-0.037

14

2007

0.505

0.324

0.036

15

2008

0.535

0.326

0.028

D

16

2004

0.765

0.379

-0.032

17

2005

0.795

0.381

-0.062

18

2006

0.826

0.383

-0.014

19

2007

0.856

0.386

-0.008

20

2008

0.886

0.338

-0.007

 

Transformasi seperti ini efektif untuk data-data yang memiliki nilai negative yang didak mungkin dilakukan dengan log maupun lognormal. Dan masih lebih baik dibandingkan dengan transformasi kuadratik. Selanjutnya dilakukan kembali uji normalitas data dan diperoleh hasil sebagai berikut.

 

Tests of Normality

 

Kolmogorov-Smirnova

Shapiro-Wilk

 

Statistic

df

Sig.

Statistic

df

Sig.

KAP

.114

20

.200*

.933

20

.180

Index Pengungkapan

.121

20

.200*

.920

20

.100

IR

.157

20

.200*

.906

20

.054

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

 

Setelah dilakukan pengujian kembali terhadap keempat data hasil transformasi tersebut ternyata semuanya dinyatakan berdistribusi normal karena nilai sig.> 0.05 (untuk semua data), sehingga data sudah layak untuk pengujian selanjutnya uji asumsi klasik, regresi dan uji hipotesis.

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
Statistics? http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17647 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17647 Mon, 14 Dec 2009 22:23:51 +0700 Bina Solusi Perihal Bina Solusi http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17647  

What is statistics????

In order to begin our analysis as to why statistics is a necessary type of reasoning we must begin by addressing the nature of science and experimentation. A characteristic method used by Scientists is to study a relatively small collection of objects, say 2500 people, and a characteristic, say longevity, and through experimentation or observation, draw a conclusion appropriate for the entire class of objects (i.e., people, in general). For example, suppose a study published results suggesting people who own pets live longer. Would this mean that all people who own pets are likely to live long lives? Does owning a pet cause longevity? Suppose the people in the study, by chance, were on the whole, very healthy people,  and therefore lived long lives:

Would this invalidate the researcher's assertion that people who own pets live longer? The obvious problem with this type of reasoning is that these issues can never be proved absolutely. This type of scientific reasoning is called inductive reasoning and is inherently flawed. One can never study a sample and expect conclusions to hold true for the entire population with absolute certainty. This is exactly why statistics is needed.

In contrast to the lack of certainty associated with  inductive reasoning, the type of logic used in Mathematics is absolutely certain. The mathematician begins with  general principles and logically concludes more specific relationships. This type of reasoning from the general to the particular is called deductive reasoning. A rather simplistic (but nevertheless correct) example is based on the principle that  two numbers can be added in any order, thereby giving the same sum.
This is called the axiom of commutativity. An example of deductive reasoning would be to assert that since this holds for any two numbers, surely this must hold for the numbers two and three, in particular. We are, therefore, absolutely certain that 2 + 3 = 3 + 2, given the axiom of commutativity. 

In its applied form, statistics then becomes a bridge between the inductive uncertainty of science and the deductive certainty of mathematics. In his classic book, The Design of Experiments, Sir Ronald A. Fisher expresses this idea beautifully:

We may at once admit that any inference from the particular to the general must be attended with some degree of uncertainty, but this is not the same as to admit that such inference cannot be absolutely rigorous, for the natureand degree of the uncertainty may itself be capable of rigorous expression.

 

Statistics, therefore, is the mathematical method by which the uncertainty inherent in the scientific method is rigorously quantified.

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/
Apakah Bina Solusi??? http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17613 http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17613 Mon, 14 Dec 2009 12:41:59 +0700 Bina Solusi Perihal Bina Solusi http://binasolusijitu.com/?pg=articles&article=17613 Bina Solusi adalah perusahaan yang bergerak pada bidang jasa pelatihan manajemen, riset manajemen, statistika industry, kepuasan karyawan, kepuasan konsumen dan pengukuran kinerja perusahaan baik perusahaan jasa maupun manufaktur.

 

Primary Business

·Menyediakan jasa training dan analisis manjemen baik SDM, Pemasaran, Keuangan, Stratejik maupun Operasional/produksi.

·EO untuk kebutuhan training dan seminar di luar dan dalam perusahaan.

·Jasa survey, riset dan analisis manajemen.

·Bantuan analisis kuantitatif (statistik) dan kualitatif.

·Penilaian kinerja perusahaan, indeks kepuasan karyawan, indeks kepuasan konsumen, dll.

 

Tenaga Konsultan di Bina Solusi:

1.  Mohamad Rojana Hamdan, ST., MM.

Beliau lulusan UI dan Universitas Borobudur yang sangat familiar dan berpengalaman dalam hal kinerja perusahaan, SDM, Produksi serta keuangan & investasi. Tercatat beliau telah berpengalaman menangani sejumlah survey kepuasan karyawan/pelanggan dan statistika industri. Saat ini beliau adalah entrepreneur dan praktisi bidang investasi serta kelayakan usaha.

2.  Yudi Faisal, SKom.

Beliau lulusan Unpad yang sangat familiar dan berpengalaman untuk bidang budaya organisasi, kepemimpinan dan SDM. Saat ini beliau menjabat sebagai Senior Consultant di lembaga Bina Solusi.

3.  Ahmad Junaidi, SE.

Beliau lulusan Universitas Bayangkara, familiar dan berpengalaman untuk bidang survey pelanggan, kepemimpinan dan SDM. Saat ini beliau menjabat sebagai Consultant di lembaga Bina Solusi.

 

Pengalaman Proyek:

Beberapa proyek yang pernah ditanganinya antara lain:

1.  Analisis Kelayakan Proyek Restaging Generator Untuk Pertamina Cilamaya.

2.  Analisis Kelayakan Operasi Bank-Bank Go Public Dengan Metode Diskriminan.

3.  Aplikasi BSC Pada Asuransi BAJ.

4.  Optimalisasi Portofolio Dana Pensiun PT. Angkasa Pura II.

5.  Survey Kepuasan Karyawan di PT. ABI thn 2008.

6.  Survey Kepuasan Karyawan di PT. ABI thn 2009.

7.  Analisis Kepuasan Karyawan di Pelindo II dan III.

8.  Feasibility Study Proyek PT. Indosat Dalam Pengadaan Bangunan Di DIY.

 

Info lebih lanjut hubungi:

Kantor Bina Solusi

Jl. Layur No. 5 Rawamangun

Jakarta Timur

 

Telp. (021)47866162

        (021)92798467

 

email: roy_mgr@yahoo.com

         bina_mrsolution@yahoo.com

 

 

 

 

 

]]>
http://binasolusijitu.com/rss-comments/